Senin, 23 April 2012

Surat Cinta untuk AYAH

Ayah, saat aku menuliskan ini, aku sedang duduk sendiri di bawah pohon pinus tepat dimana dulu kita menanamnya bersama, Dan sekarang tempat ini menjadi tempatku menuliskan setiap sepiku,  mengukir kepingan pilu yang sebagian terukir pada nisanmu dan sebagian lagi tersimpan pada pesona senja yang menghilang pada langit kelam. Senyum tulusmu serupa lengkung sabit perak diatas angkasa masih saja selalu menemani tidurku yang lelap menghias lembar hari dimana aku masih belum juga bisa berdamai dengan kerelaan.

Ayah, sampai saat ini aku masih mengeja dan meraba mengenali setiap rasa yang menjelma dalam setiap hariku. Aku mulai lelah berteman sunyi dalam kamar penuh debu, tembok dinding berlubang sesisa lukisanmu yang kini usang, terperangkap pada kelambu keheningan dan berada dalam ruang yang semakin pengap. Aku jenggah terus bersama dengan diri yang tak pernah mau mengerti dan menerima akan titah - Nya, sungguh aku masih merindukanmu.

Aku masih disini Ayah, masih tetap menahan bulir kristal yang tak henti menerobos benteng pelupuk mata, kembali memungut semua sisa kenangan kita dulu dengan memandangi langit senja dan mulai menanti hujan. Karena setelah hujan turun maka keindahan pelangi akan datang menggantikan hujan, itu yang dulu selalu ayah katakan saat aku mulai mengeluh dengan penatku.

Senja ini hujan turun dengan ritme lembutnya, suara indah rintik-rintik kecilnya jatuh pada seng usang penutup rumah kita tedengar seperti nyanyian malaikat kecil dengan biola mungil mereka. Suaranya syahdu mengalahkan sendu yang selalu merengkuh pilar-pilar sepiku akan kehadiranmu.

Ayah..Aku benci dengan waktu yang selalu tak bersahabat ini, waktu yang selalu memberi pemisah pada kita untuk saling bercengkrama. Aku juga benci dengan cerita-cerita mereka tentang kebahagian yang mereka dapatkan dari malaikat pelindung yang selalu mereka sebut ayah.

Aku ingin ayah selalu ada untukku, ada dalam setiap ceritaku dan ada tak hanya dalam mimpiku. Tapi aku tahu, Tuhan telah menuliskan semua ini dengan sejuta keindahan didalamnya, aku percaya bahwa Tuhan jauh lebih memahamiku dibandingkan diriku sendiri.

Ayah,akan kutitipkan rinduku pada deras hujan yang kan berganti dengan bias indah pelangi nanti untukmu. Aku sungguh merindukanmu, mengalahkan rindu padang tandus akan hujan.

Jumat, 02 September 2011

I Turn To You

When I'm lost in the rain,
In your eyes I know I'll find the light to light my way.
And when I'm scared and losing ground;
When my world is going crazy, you can turn it all around.

And when I'm down you're there; pushing me to the top.

You're always there; giving me all you've got.

For a shield from the storm;

For a friend; for a love
To keep me safe and warm,
I turn to you.
For the strength to be strong;
For the will to carry on;
For everything you do;
For everything that's true,
I turn to you.

When I lose my will to win,

I just reach for you and I can reach the sky again.
I can do anything,
'Cause your love is so amazing; 'cause your love inspires me.

And when I need a friend, you're always on my side;

Giving me faith that gets me through the night.

For a shield from the storm;

For a friend; for a love
To keep me safe and warm,
I turn to you.
For the strength to be strong;
For the will to carry on;
For everything you do;
For everything that's true,
I turn to you.

For the arms to be my shelter through all the rain;

For truth that will never change;
For someone to lean on;
for a heart I can rely on through anything;
For that one who I can run to....
I turn to you.

For a shield from the storm;

For a friend; for a love
To keep me safe and warm,
I turn to you.
For the strength to be strong;
For the will to carry on;
For everything you do;
For everything that's true,
I turn to you.

For a shield from the storm;

For a friend; for a love
To keep me safe and warm,
I turn to you.
For the strength to be strong;
For the will to carry on;
For everything you do;
For everything that's true...

For everything you do;

For everything that's true,
I turn to you...
 

Jumat, 26 Agustus 2011

I STILL BELIEVE IN MIRACLE

I've been watching you closely up from Heaven
See the dark clouds hanging above your head
As the enemies and vultures closed behind you
You feel you've lost with nowhere left to go

But I've promised you that I would never leave you
Though My timing's hard for you to comprehend
Do you trust Me and know that I am there
To see you through right until the end 

Do you believe in miracles ?
That I'll part the sea and save your day ?
Do you believe in miracles ?
That I will be with you all the way ?

For so many days and nights I've prayed to Heaven
While the enemies were waiting for my fall
When all around me felt like sinking sand
No place to stand, with only Your name I can call

Now I know my faith in You is being shaken
And I'm not afraid to say that I am scared
But I do know You're true
To all Your words
You are my God and I know that You'll be there


I still believe in miracle
That you'll part the sea and save my day
I still believe in miracle
That you will be with me all the way
 
And I know that You are able
To save me from the fire
But even if You don't
My love for You remains

Kamis, 28 Juli 2011

Heart Say

I’m still waiting for you
To love me silently
So long as you’re by my side
Silently is good enough
You’re also waiting for
My silent tenderness
Holding hands like this
Silently gazing at the sky 

What’s hidden inside this heart?
You are only trying to let me understand
It turns out that my dream
Is also yours
Wo~
Oh~ 

What’s written on this piece of paper?
How I wish I could hear you say
Let every word, every sentence
Is filled with our smiles 

Forever we shall remember of the promise we made to each other on that day
That sudden, bright spark
Belongs to us 

Holding hands silently
Is the simplest dream 

Sabtu, 30 April 2011

Puisi Persahabatan

Aku adalah kupu-kupu , aku dan bunga adalah sepasang kekasih.

Angin kehidupan mempertemukan dan memisahkan kami.

Aku terbang dan aku datang dari atas singasana cintamu,

untuk menggabungkan sengat kasihku dengan putik indahmu,

serta keindahan warnanya yang menyatu dengan keindahan sayap-sayap
cintaku.

Menjelang segarnya pagi aku menghampiri kekasihku,

dan ia mendekapku dalam kelopak indahnya.

Disenja hari kutorehkan dan kubacakan syair-syair kerinduanku ,

lalu ia tersenyum ,

dan melambaikan kelopak jiwanya padaku....

Kupu-kupu bersayap yang oleh cinta tidak diberi kekuatan,

tidak akan bisa terbang dari balik dedaunan untuk melihat keindahan
dan keagungan cinta,

Dimana jiwaku dan jiwa kekasihku menyatu dalam setiap hembusan dan
tarikan nafas keabadian...

Ketika angin menyandungkan bait-bait cinta ,

Ruh semesta yang mendengarnya akan tertunduk dalam bulir airmata
bahagia...

Disaat angin bergolak, dan hati terluka...

Kupu-kupu terbang susuri taman-taman hati,

dilihatnya bunga-bunga merekahkan warni kemandulan jiwa...

putik indahnya takkan pernah mendengar...ketika alam menyandungkan
bait-bait kehidupan...

Kekasihku,.....

aku ingin engkau mengenalku sebagai keindahan kupu-kupu yang pernah
tertatih dalam kegelapan...

Aku ingin engkau mengingatku sebagai makhluk yang pernah terkurung
sepi

dalam selubung kegetiran ....

Duhai,

keindahan jiwa yang menghias taman hatiku,

Tak ada hari-hari yang lebih indah daripada hari-hari yang dihiasi
oleh keindahan cinta...

Tak ada badai yang lebih menakutkan selain badai asmara..

tetaplah dalam genggaman erat -

kepakan syair keabadianku, dan.....

Jadilah pengikut setia atas Singgasana keajaiban cintaku.

Jumat, 29 April 2011

MALAIKAT BERSAYAP HITAM

Setiap orang punya mimpi tanpa peduli apakah mimpi itu utuh atau rapuh. Entah bisa mewujudkan atau tidak, semua orang tetap punya mimpi, begitu juga dengan aku. Aku selalu bermimpi untuk menemukan celah pada hamparan langit itu, terbang mencari akhir dari langit yang tak pernah berakhir, tapi apakah aku punya sayap untuk terbang? Menyentuh langit terendah pun aku cukup hina.

Aku pun bersenandung dengan langkah yang tidak pernah tahu dimana sesungguhnya aku berpijak. Dimana mimpi? Dimana hati? Aku ingin mencari tapi terselimuti kabut kehampaan. Hingga pandangku terusik sebongkah hati. Sebongkah hati, kenapa kau tampak begitu sepi? Apakah mati? Tidak, kau hanya terhanyut mimpi, terlelap dalam dekapan kehampaan. Benak ini ingin berlalu, tapi sebongkah hati itu tunjuk aku di sisinya. Sebongkah hati itu menjanjikan seutuh mimpi. Lihat, aku menggenggam seutuh mimpi! Selamat tinggal sepi... aku punya seutuh mimpi!

Sebongkah hati itu ingin aku mendekapnya. Sayang, aku tidak punya sayap. Sebongkah hati itu memberikan seutuh mimpi tapi aku harus memberikan apa? Sebongkah hati itu menjadi dingin. Seutuh mimpi ini dalam genggamanku tapi aku harus mendekap dengan apa? Batinku berbisik lirih, berikan aku sayap, berikan aku sayap, berikan aku sayap, akan ku ganti seutuh mimpi ini dengan sayap asalkan sebongkah hati itu bisa kudekap. Reruntuhan sayap dari langit pun berjatuhan, aku pun merangkainya. Mengenakan sayap itu pada sebongkah hati yang hampir mati.

Perlahan sebongkah hati itu bersinar,
menyilaukan.
Sebongkah hati itu melayang,
menyebalkan.
Sebongkah hati itu terbang,
menghilang.

Tidaaaaaaak! Aku tidak mau sendiri lagi! Aku berteriak pada hamparan langit sekuat batin ini meronta. Aku memejamkan mata, memeluk lutut yang gemetar, hembusan angin terasa begitu pilu. Batin ini terus meronta,

Sesungguhnya aku yang ingin memiliki sayap, bukan sebongkah hati itu
Sesungguhnya aku tak rela sebongkah hati itu pergi, tinggalkan aku sendiri lagi
Sesungguhnya aku ingin sebongkah hati itu kembali.

Sejenak langit tampak membisu tapi angin yang semilir terasa lebih biadab. Rambutku yang panjang terurai menghalangi lapangan pandanganku. Tapi di situ...
Sebongkah hati itu kembali!
Punggung ini terasa mengusik
Aku menoleh ke belakang
Aku tidak percaya! Sayap yang elok tumbuh dari punggung ini
Aku punya sayap!

Aku pun terbang perlahan meninggalkan sebongkah hati itu sendiri. Aku menggenggam seutuh mimpi dengan erat. Aku tidak peduli sebongkah hati itu sendiri, sepi atau mati. Aku hanya ingin menyentuh langit dengan sayap ini. Aku hanya ingin mencari mimpi dengan sayap ini. Aku hanya ingin mencari akhir dari langit yang tak berakhir itu sendiri. Hanya sendiri. Dari tempatku melayang aku menoleh ke belakang

Kepakan sayap terhenti
Jiwaku pilu
Sebongkah hati itu...
Sendiri, sepi ataukah mati?
Selayak aku terdahulu
Serupa aku yang berjalan dalam kehampaan
Tanpa sayap

Aku merasa hina, aku tidak boleh meninggalkannya sendiri. Aku pun mengepakkan sayapku lagi. Aku berjanji akan mengambil sebongkah awan untuk menghangatkannya. Sayap ini tidak akan kugunakan untuk mencari mimpiku. Aku ingin menggunakan sayap ini untuk mengganti seutuh mimpi yang pernah sebongkah hati itu berikan. Aku pun mengepakkan sayap ini dengan sekuat tenaga, tapi kenapa hanya untuk menggapai awan saja sayap ini terlalu lemah? Apakah terluka? Aku pun melihat sayap ini

Aku membayangkan mengenakan sayap yang berkilauan
Tidak.
Sayap yang tumbuh dari punggungku
Jauh. Jauh dari kemilau
Sayap hitam
Sayap yang tumbuh dari punggungku adalah sayap hitam

Jiwaku pun semakin melemah. Langit memang terdiam tapi terasa semakin kelam, tunjuk aku pergi jauh darinya. Hembusan angin pun menghempasku. Aku telah mempunyai hati yang tulus untuk menjaganya kembali tapi kenapa sayap ini hitam?

Aku hanya malaikat bersayap hitam.

Aku pun terjatuh merapuh pada bentangan kehampaan
Sayap hitam ini pun perlahan lapuk
Sebongkah hati itu mati
Kulihat seutuh mimpi yang masih aku genggam
Bukan utuh
Seketika rapuh

Aku pun menangis seraya mengais rapuhan mimpi yang tersisa. Aku pun berlari sekuat tangisanku dengan kamilau rapuhan mimpi yang masih ada dalam genggaman ini. Semua membenci malaikat bersayap hitam. Entah langit, entah hembusan angin semua mengusir aku dari bentangan itu. Aku pun menemukan terowongan yang gelap. Sesungguhnya aku takut pada kegelapan tapi aku ingin bersembunyi, aku pun berlari ke dalam terowongan itu. Menghindari langit yang kelam, menjauh dari hempasan angin. Kemilau rapuhan mimpi itu menjadi satu-satunya sinar yang bisa memanjakan mata ini. Aku pun terus merangkai rapuhan mimpi itu, berharap bisa menjadi sesuatu yang utuh. Setelah utuh, batin ini akan memohon agar sebongkah hati itu kembali hidup, meski aku harus mengorbankan mimpiku untuk menyentuh langit. Aku akan merelakannya untuk sebongkah hati itu. Aku pun terus menyusun rapuhan mimpi itu. Mendekap enggan untuk berhenti. Terhunus waktu merangkai mimpi yang pilu.

Dua musim telah terlewati
Takkan peduli sejauh apa langit telah berganti
Entah biru yang mahasempurna
Atau gumpalan awan dengan garis silver
Aku takkan terkalahkan waktu
Rapuhan mimpi ini akan kurangkai sampai menjadi seutuh mimpi
Selamanya

Perasaanku yang begitu dingin bahkan hampir membeku perlahan terasa hangat. Perasaan yang pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan reruntuhan sayap-sayap yang tak bisa kulihat warnanya. Perlahan berjatuhan dari tempatku bernaung. Aku pun memejamkan mata. Aku mulai merasakan dekapan sayap yang begitu hangat. Perasaan yang pernah hilang namun terasa lagi. Aku pun membuka mata dan melihat ke belakang. Terlihat seorang laki-laki bak seorang pangeran. Lelakiku?

Wajah yang putih tanpa hina
Tatapan yang begitu lemah
Senyum yang hangat
Menjanjikan aku pada bentangan langit itu
Rasa pada suatu masa yang enggan aku tinggalkan

Aku hanya terpaku pada wajahnya. Akan kulupakan rapuhan mimpi itu. Pangeran ini tampak begitu berkilau. Mengangkat raga ini dari kegelapan yang hina. Pangeran ini malaikatku. Malaikat ini mulai mengepakkan sayapnya tapi aku tetap terpaku pada wajahnya, masih ingin mencari sesuatu yang pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan yang pernah ada ”waktu itu”, apakah cinta? Luka? Hampa? Entahlah, malaikat ini mengganti ”waktu itu” dengan ”waktu ini” membawa raga tanpa sayap ini mencari akhir dari langit yang tak pernah berakhir. Seutuh mimpi.

Malaikat ini menggenggam tanganku begitu erat seakan enggan melepas raga yang hina ini. Aku hanya terpaku pada wajahnya yang tulus meski sesekali melihat awan yang kulintasi. Aku belum pernah terbang setinggi ini tapi kenapa aku merasa pernah merasakan perasaan serupa ini? Entahlah, aku punya mimpi menyentuh langit, malaikat ini punya sayap untuk mewujudkan mimpiku. Hingga saat ini hanya itu yang aku tahu.

Di sekelilingku terdapat gumpalan awan yang seolah ingin tersentuh tapi saat kusentuh aku tidak dapat mengambilnya.

Keindahan yang hampa.

Aku pun kembali melihat malaikatku, dia tampak tersenyum bahagia melihat tingkah lakuku. Aku pun menatap matanya begitu dalam, tersenyum bahagia. Malaikatku menarik tangan yang lemah ini untuk mendekat ke arahnya. Kami saling berpandangan begitu dalam. Tersenyum bahagia. Mata itu... aku pernah melihatnya tapi dimana? Kapan? Ingatan yang hilang tapi begitu dalam. Kita masih berpandangan dengan tatapan dalam yang begitu ingin menyusuri, tangan kirinya mendekap pinggangku, aku merebahkan raga yang lelah menanti ini pada pundaknya, pundak yang sama, entahlah, aku merasa pernah menitipkan pasrah pada pundak ini. tapi dimana? Kapan? Ingatan yang hilang tapi begitu dalam. Aku pun tetap bersandar tanpa peduli sebanyak apa tanya bercerita. Tangan kanannya membelai rambutku. Mata kami tidak putus untuk bertatapan. Wajahnya mendekat. Mata ini kupejamkan pelan. Bibirnya yang lembut pun terasa menyentuh bibirku. Hangat. Semakin dalam. Apakah ini yang pertama? Bukan, aku pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah ini yang terakhir? Iya, aku ingin menjadikan malaikat ini sebagai kisah terakhirku. Malaikat ini pangeranku.

Perlahan sekelilingku terasa berbeda, bukan lagi awan tapi biru yang maha sempurna. Perfect blue. Malaikat ini membawaku terlalu tinggi. Bahkan lebih tinggi dari apa yang pernah aku impikan. Tatapan mata yang tidak pernah putus. Genggaman tangan yang begitu erat. Elok wajahmu yang tidak pernah memudar. Kita tidak akan pernah terpisah khan? Senyum. Senyum itu selalu memberi jawaban. Malaikat ini tidak akan pernah melepasku. Keyakinanku dan takdirku.

Entah kenapa hembusan angin yang biadab merusak keindahan ini. Terlihat kabut menghalangi pandangan ini. Kabut kehampaan. Aku pernah merasakan ini tapi entahlah aku mulai resah. Akankah terpisah? Di sela kabut itu aku melihat dekapan sayap hitam yang begitu kuat mengepakkan sayapnya.

Sayap hitam yang kuat itu mendekap malaikatku
Seekor iblis.

Kenapa sudah sejauh ini aku tak jua memiliki kemilau sayap untuk mendekap orang yang aku cintai? Perlahan genggaman erat tangannya melemah. Aku berusaha menelusuri wajahnya di tengah kabut

Masih...
Wajah yang putih tanpa hina
Tatapan yang begitu lemah
Senyum yang hangat
Tapi kenapa aku terlepas? Ataukah terhempas?

Perlahan tanganku terlepas, aku mulai merasa tubuhku melayang bodoh pada kabut kehampaan. Aku pernah melupakan perasaan ini tapi membuang semua ingatan ini hanya menciptakan hampa. Aku mulai berusaha mengingatnya

Wajah, tatapan dan senyumnya itu
Sesungguhnya milikku terdahulu
Dekapan, mimpi dan malaikat ini
Sesungguhnya milikku terdahulu
Terlepas, terhempas dan hampa
Sesungguhnya yang malaikat ini lakukan terdahulu
Cinta.
Luka.
Hampa.
Benci.
Mati.
Perasaan yang kau ajarkan dulu
Cinta pertamaku.

Meski tahu aku tidak punya kemilau sayap untuk mendekapmu
Meski tahu kau sulit terlepas dari dekapan sang iblis
Meski tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan ini
Aku ingin berusaha terbang menyelamatkanmu

Aku pun menumbuhkan kembali sayap hitam di punggung ini, aku tahu sayap hitam ini bukan apa-apa tapi aku tidak punya apa-apa selain sayap hitam ini. Sejauh apa pun kau melepasku kau pernah membawaku terbang setinggi ini. Seutuh mimpi. Sejauh apa pun kau terjatuh, merapuh, sebisa mungkin aku akan menangkapmu. Meski nanti aku harus tahu. Kau hanyalah malaikat bersayap hitam yang berulangkali membodohiku dalam dekapanmu. Elok yang semu. Salah yang indah.

Aku pun terbang ke atas dengan sayap hitam yang lemah. Iblis itu terlalu kuat membawamu menjauh dariku. Iblis itu terlalu kuat mendekapmu, sementara aku tidak memiliki sayap untuk mendekapmu. Tanganmu, aku melihat tanganmu bergerak perlahan meski terhalang oleh kabut kehampaan, apakah ingin menggenggamku kembali? Tidak, tangan itu acungkan aku pergi jauh darimu. Jiwaku melemah begitu juga dengan sayapku. Sejuta tanya bercerita

Apakah dekapan iblis itu terlalu hangat untukmu?
Hingga takkan kembali terbang bersamaku?
Apakah kau tidak ingin aku terlalu jauh berharap?
Dengan kepakan sayap yang terlelap?
Apakah kau melepasku?
Ataukah menghempasku?
Kenapa kau mengulangi kisah terdahulu?

Ragaku yang hina ini pun terjatuh perlahan dari sisi mereka. Terakhir kali, aku melihat kau masih menatapku dengan tatapan yang kurindu itu tapi kau membiarkan aku terjatuh merapuh dari mimpi yang begitu tinggi ini, kau tahu? Aku terjatuh lebih tinggi dari seharusnya. Kau malaikat. Kau bejat.

Aku tetap berusaha agar tidak terjatuh terlalu tinggi. Kusentuh awan tapi sekali lagi hampa. Semua ini indah yang kau rangkai tapi indah yang begitu hampa. Aku pun pasrah pada hembusan angin entah membawa raga yang hina ini pada bentangan hampa apalagi. Mata ini terpejam mengingat semua kenangan pedih yang pernah ingin aku lupakan.

Cinta pertamaku
Kau beri seutuh mimpi
Kusebut kau malaikat
Kusebut kau pangeran
Kusebut kau mahasempurna
Kusebut kau kisah abadiku
Tapi berulangkali aku tidak bisa mendekapmu
Pantas, jika kau melepasku berulangkali?

Terkapar tanya, tersadar raga ini telah terjatuh pada bentangan kehampaan, jauh dari langit yang mahasempurna. Saat itu langit menyajikan lukisan oranye dengan garis silver yang begitu tipis. Senja ini akan selalu terkunci di hati ini.

Mengunci janji pada sebongkah hati itu yang telah aku ingkari
Sebongkah hati yang memberi seutuh mimpi
Tapi pernah terselip ingkar
Untuk meninggalkannya menyentuh langit
Inikah dosa dalam raga yang hina ini?
Langit tak akan pernah bercelah untuk malaikat bersayap hitam
Untuk malaikat yang ingkar

Aku pun terdiam menunggu langit berganti kelam. Berharap malam memberi mimpi baru untukku.

Reruntuhan sayap hitam pun jatuh di sekelilingku. Aku terperanjat dari tempatku terdiam, kehangatan sayap ini pernah aku rasakan. Ini adalah reruntuhan sayap malaikatku, aku merindukannya, apakah malaikatku akan baik-baik saja? Apakah malaikatku akan merindukanku? Iya, dia baik-baik saja. Tidak, dia tidak akan merindukanku.

Aku pun menggenggam erat reruntuhan sayap hitam ini. Genggaman rindu yang berubah jadi kebencian. Begitu benci. Reruntuhan sayap dalam genggaman ini pun remuk merapuh. Serapuh elok yang pernah kau tawarkan. Serapuh mimpi yang aku genggam. Kita sama, sebagai malaikat bersayap hitam, pernah cinta, pernah ingkar tapi kau malaikat bersayap hitam yang maha sempurna. Jauh lebih hitam dari sayap pada punggungku.

Aku pun kembali berjalan pada bentangan kehampaan. Dimana hati? Dimana mimpi?
Mati.

Kamis, 28 April 2011

Senyum Malaikat Hitam Tak Bersayap

Senyumku untuk semua orang dan karena semua orang
tapi deritaku untuk satu orang dan karena satu orang
dialah yang menorehkan luka dalam setelah kutorehkan luka dalam pula padanya
SERI memang tapi hanya untuknya….untukku…..aku kalah
saat mulai kurasakan goresan luka,saat itu akhir luka baginya
kebahagiaan menghampirinya setelah sekian lama dalam derita
sebaliknya……
kebahagiaan menjauhiku setelah sekian lama tak kusadari bahwa dia menderita……..
Aku adalah malaikat yang saat kuputih dan bersayap tak pernah sadar….
panah yang kutancapkan akan menjadikanku MALAIKAT HITAM TAK BERSAYAP…..
Tapi aku terlahir sebagai malaikat putih bersayap
kekalahan ini hanya sementara
masih ada seseorang yang lain yang pasti akan datang
mengembalikan warna putih dan sayapku
Senyumku……..
senyum malaikat hitam tak bersayap….